HOME

Sabtu, 29 Mei 2010

MONEY OF LIFE

Several years ago I have suffered from back pain that made my back so crooked and I walked hard. I've gone to the hospital for relief effort but it was not satisfying me. I also went to another hospital and I still did not get the maximum result. Praying to God became my family first effort. We needed to be patience for waiting for the answer to our struggle.

Once Saturday around midnight, I woke up with the back pain. So, I prayed. I was not expecting to get a "vision". My right and left hands were moving toward my chest. It seemed they took out something from my heart several times. My mouth was unconsciously saying,


"Yes, Lord. Please remove the bitterness from my heart. I am willing to forgive those who have hurt me. "


Soon both of my hands moved towards my knees and untied transparent white bandages that winding around my both knees.
I immediately got out of bed. I knew I would be recovered. I tried to walk out to the living room, where we used to worship. I tried to look up and praised God with hymn “How Great Thou Art” :

O Lord my God ! When I in awesome wonder,

Consider all the works Thy hands have made

I see the stars, I hear the mighty thunder,
Thy pow’r throughout the universe displayed.


Chorus :

Then sings my soul, my saviour God to Thee;

How great Thou art, How great Thou art !

Then sings my soul, my saviour God to Thee;

How great Thou art, How great Thou art !


I sang several times because of the joy. Then I said,

"I will forget the one’s mistakes. I know he has repeatedly cheated me. God, I know three hundred thousand rupiah is really worthfull. It is an amount of money earned by the average workers for 15 days work with sweat and tears. I know that he could not return my money because of his poverty and dishonesty. "

I paused for a moment, and I was shown something. Then, I continued,

"Oh, Lord. Now, I bring his debt of three hundred thousand unto Thee. Let it be a fragrant offering before thee, O Lord. "

My heart was full of joy. I have been given a heavenly wisdom about how to resolve the question of my heart, especially about forgiving, since it was difficult. It was easier to apologize or to ask forgiveness.

After a few weeks, I was healed. God has sent my neighbor, who initially did not know I was sick, to provide some help, good information and even took me to a therapist. The treatment itself took place several times until I was fully recovered.


Since the incident, I have been sharing my life experiences to the friends who was hurt, anger and upset. It is wise if we can convert it into an offering to God through prayer with sincerity and joy. Although this is not always easy, but it's good for the following reason:


First, we will not recall it anymore because it have been offered to God. That means we do not hate him anymore.

Second, we will not keep the blessing for those who have hurt us, so he will have the opportunity to return to the right path. And please remember that we might ever hurt others.

Third, we will receive forgiveness and blessing from God, including healing and success.


The following verses are certainly worthfull for our consideration in making decision.

Matthew 18: 21-22

21 Peter came up to the Lord and asked, "How many times should I forgive someone who does something wrong to me? Is seven times enough?"22 Jesus answered: Not just seven times, but seventy-seven times.

Jumat, 28 Mei 2010

UANG KEHIDUPAN

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menderita sakit punggung dan hampir berjalan bungkuk. Saya telah pergi ke rumah sakit untuk upaya penyembuhan. Tetapi tidak juga jelas penanganannya. Saya pun beralih ke rumah sakit yang lain dan tetap tidak mendapatkan hasil yang maksimal.

Berdoa kepada Tuhan adalah upaya yang selalu saya dan keluarga dahulukan. Perlu kesabaran untuk memperoleh jawaban atas suatu pergumulan.


Pada suatu hari Sabtu menjelang tengah malam, saya terbangun dari tidur dengan punggung meregang kesakitan. Saya pun berdoa. Saya tidak menduga akan mendapat “penglihatan”. Tangan kanan dan kiri saya bergerak ke arah dada dan sepertinya melakukan gerakan seolah-olah mengeluarkan sesuatu dari dalam hati dan terjadi beberapa kali. Mulut saya secara tak sadar berucap,


” Ya, Tuhan. keluarkan kepahitan-kepahitan yang ada dari dalam hati saya. Saya mau mengampuni orang yang telah melukai hati saya."

Tidak lama kemudian kedua tangan saya bergerak ke arah lutut dan melakukan gerakan seperti melepaskan ikatan yang melilit kedua lutut saya. Saya seperti melihat ada lilitan kain putih transparan mulai terlepas dari kaki saya.


Saya segera bangkit dari tempat tidur. Saya tahu saya akan sembuh. Saya mencoba berjalan keluar dengan tertatih dan agak bungkuk menuju ruang keluarga di mana kami biasa beribadah. Saya mencoba menengadah dan bernyanyi memuji Tuhan. Sebuah pujian dari Kidung Jemaat no 64.


Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
Ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.

Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku!”
Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku !”


Beberapa kali saya melagukannya karena sukacita hati saya dan sambil meneteskan air mata, saya berucap,


“Saya tidak akan mengingat kesalahan orang itu lagi Tuhan. Saya tahu dia telah berkali-kali menipu saya dan bahkan dalam keadaan saya kesulitan keuangan. Saya tahu apa arti uang tiga ratus ribu rupiah Tuhan. Jumlah uang yang diperoleh dengan keringat dan air mata selama 15 hari bagi orang kebanyakan. Saya tahu dia tidak sanggup mengembalikan hutang itu kepada saya karena kemiskinannya dan juga karena ketidakjujurannya.”

Saya diam sesaat dan seperti diperlihatkan sesuatu. Dan saya pun meneruskan,


“Baik, Tuhan. Hutang dia kepada saya sebesar tiga ratus ribu rupiah, saya persembahkan kepada Engkau. Biarlah itu menjadi persembahan yang harum di hadapan Engkau, ya Tuhan.”


Hati saya penuh sukacita. Saya telah diberi hikmat surgawi mengenai cara menyelesaikan persoalan hati saya. Terutama mengenai mengampuni, karena ini termasuk susah. Lebih mudah kita meminta maaf atau meminta ampun meski tidak ditanggapi. Hal itu masih lebih baik, karena kita telah berupaya dan Tuhan tentulah mengetahui situasi yang terjadi.


Selang beberapa minggu, saya mengalami kesembuhan. Hal ini berkat Tuhan yang memakai tetangga saya, yang semula tidak tahu saya sakit, telah memberikan pertolongan, baik informasi maupun bahkan mengajak saya kepada seorang terapis medis mengenai sakit saya. Pengobatannya sendiri berlangsung beberapa kali sampai saya benar-benar pulih dan bisa kembali berjalan tegak.


Sejak kejadian itu, saya membagikan pengalaman hidup saya untuk teman-teman yang sakit hati, memendam amarah dan tentu termasuk yang kesal karena dipinjami uang dan sulit ditagih. Adalah bijaksana kalau kemudian kita ubahkan itu menjadi persembahan kepada Tuhan melalui doa dengan kesungguhan hati dan sukacita. Walau ini tidak selalu mudah, namun ini baik karena alasan berikut :

Pertama, kita tidak akan mempersoalkannya lagi karena itu sudah dipersembahkan kepada Tuhan. Artinya, kita tidak membencinya lagi.


Kedua, kita tidak akan menahan berkat bagi orang yang telah melukai hati kita, sehingga ia pun akan memiliki kesempatan berbalik kepada jalan yang benar. Dan ingat, kita pun pernah bersalah kepada orang lain.


Ketiga, kita akan mendapat berkat pengampunan dari Tuhan dan berbagai berkat yang lain termasuk kesembuhan dan keberhasilan dalam usaha.


Nats berikut ini tentulah patut menjadi dasar pertimbangan kita.
Matius 18 : 21-22

21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Rabu, 26 Mei 2010

MOUSE OF LIFE

My heart was stirred by a memory of the past about a mouse. Yeah, a mouse. I therefore made the title of this article "Mouse of Life", following the title of "Gecko of Life" in the previous article. It was because of "the mouse" or "the gecko" had taught me about the value of life. It was also to answer a question from Vukas Jelena, Holland, to me on Facebook.

Mouse is a clever rodent. That was shown in the series of "Micky Mouse" created by Walt Disney, which became one of the most stunning films. The producer has been successfull in creating its image as one of the famous animals.

However, its cleverness was also often interpreted negatively. In my country, mice were always featured as " the most responsible animals " for corruption that occurred in various places. In the media, a corruptor was portrayed as a human with mouse’ head-and tail.


A mouse for me was a beast that often sneaks into the kitchen to steal food. However, the mouse in the following story was a poor mouse who taught me the meaning of life.


One Friday night, around eleven o'clock pm, I was reading alone in the living room, while my wife and kids were asleep. I tried to read in order to overcome anxiety of my heart about the problem I faced.
As an activist of a board of social-religious organization, I was called to participate in directing the programme better. I could not ignore and let the leader to be selfish and authoritarian. But in reality, the various efforts that I have tried to do finally were considered disturbing the comfort of the leader. Other friends had run out of words long ago and chose to be silent. Actually, I persisted because what I did was right.

By midnight, my heart could not stand, too and I must make a decision. I also prayed and expressed the entire contents of my heart to the Lord for giving me the confidence to carry out the task. I closed my prayer with,

"Oh God, let me also for not questioning the attitude and actions of my leader who has acted without restraint. Forgive me of my weaknesses. Amen. "


After praying I felt relieved because I had decided not to say anything anymore about my leader. I also continued reading. But not so long then, I heard "KETOMBRENG" and "BYURRR !"

I turned toward the sound.
"Oooff !" A mouse has dropped the empty bucket then fell into the well through a small hole on the lid of the well. I just smiled because it was not usuall a smart mouse fell into the well.

I did not react to do anything. I thought it could save itself because it was its own mistake.
But then I realized that the mouse fell into the water of " daily life" of my family. Water for drinking, washing and bathing water, etc.. was all from there. This could cause health problems and I had no choice.

I immediately took a flash and opened the lid of the well. I saw a big mouse swimming back and forth five yards down there, in the well of one meter in diameter and contained approximately two cubic meters of water. I waited to see if it could be able to climb up the wall. Apparently, it could not.

I was soon getting a piece of rope, held it out so it could climb up. It attempted to climb up the rope, but when it was almost close to my hand, it was startled and jumped but fell again. I was hopeless because it did not want to be helped. Then, I pulled the rope while watching it sank slowly. Never mind ! It would float anyway.

Apparently, my assumption was wrong. It drowned and did not reappear. I was annoyed and blaming myself for why I did not help it seriously. Why I did not lower the bucket. I could not sleep well because waiting for the morning.


Early morning I woke up and forbade all to use the water from the well. Then I also asked my neighbors to help emptying the well manually, beside using the electric water pump, so that the water that gushed from the springs could be overcome.
Dead mouse was found and the well could be emptied and cleaned in about two hours. Then the new fresh well water was given chlorine immediately. After one day the water could be used again. It's complicated !

In the evening, I continued my prayer to God to beg forgiveness. I remembered saying,

"Thank you Lord because you have reminded me of the risks I faced. The fall of a mouse into the well have caused its death and misery for me, for family and neighbors. God, I'm not going to stop giving advice to my leader as long as I can and please give me strength. I realize that if I let my leader fall, many people will be in trouble,too. "

I also remembered the verse below. I was soon asleep from exhaustion.

James 4: 17
" If you don't do what you know is right, you have sinned.”

Selasa, 25 Mei 2010

TIKUS KEHIDUPAN

Hati saya terusik oleh kenangan masa lalu mengenai seekor tikus. Yaa, seekor tikus. Oleh karenanya saya menjadikan judul artikel kali ini “Tikus Kehidupan”, meniru judul “Tokek Kehidupan” pada artikel sebelumnya. Alasan saya memberi judul demikian adalah karena “si tikus”maupun “si tokek” inilah yang telah mengajarkan saya tentang suatu nilai kehidupan. Hal ini juga untuk menjawab pertanyaan saudari Jelena Vukas dari Belanda kepada saya di Facebook.

Tikus adalah binatang pengerat yang cerdik. Tak salah kalau “Micky Mouse” karya Walt Disney menjadi salah satu serial karya film yang memukau. Sang produser telah berhasil mengangkat citranya sebagai salah satu binatang yang terkenal.

Namun, kecerdikannya juga seringkali diartikan negatif. Di negeri saya dia selalu ditokohkan sebagai “binatang yang paling bertanggung jawab” atas korupsi yang terjadi di berbagai tempat. Di media, para koruptor digambarkan sebagai manusia berkepala dan berekor tikus.

Tikus buat saya adalah binatang yang seringkali menyelinap masuk ke dapur mencuri makanan. Tapi, tikus dalam kisah berikut ini adalah tikus malang yang mengajari saya suatu makna kehidupan.

Suatu Jumat malam, sekitar pukul sebelas malam, saya berada sendirian di ruang keluarga sedang membaca, sementara istri dan anak-anak sudah tidur. Saya mencoba membaca untuk mengatasi kegelisahan hati saya mengenai masalah yang saya hadapi.

Sebagai aktivis pengurus kegiatan organisasi religius sosial, saya merasa terpanggil untuk ikut mengarahkan dan menggerakkan kegiatan ke arah yang lebih baik. Saya tidak bisa cuek dan membiarkan sang pemimpin bertindak semaunya. Tetapi kenyataannya, berbagai upaya yang saya coba lakukan pada akhirnya dianggap mengganggu kenyamanan sang pemimpin organisasi. Teman-teman lain bahkan sudah jauh-jauh hari kehabisan kata dan memilih diam. Sebenarnya saya termasuk yang masih bertahan karna apa yang saya lakukan merupakan amanah atas panggilan saya.

Menjelang tengah malam, hati saya tidak tahan juga dan saya harus mengambil keputusan. Saya pun berdoa dan mengungkapkan segenap isi hati kepada Tuhan yang telah memberi saya sebuah kepercayaan untuk mengemban tugas tersebut. Saya menutup doa saya dengan, “Ya Tuhan, biarkanlah saya juga turut untuk tidak mempermasalahkan sikap dan tindakan pemimpin saya yang bertindak semaunya. Ampunilah saya atas kelemahan saya ini. Amin.”

Setelah berdoa saya merasa lega karena sudah memutuskan untuk tidak berkata-kata lagi soal pemimpin saya. Saya pun melanjutkan membaca. Tapi selang tak berapa lama terdengar “KETOMBRENG” dan “BYURRR !” Saya menoleh ke arah asal suara.

“Ya ampun !” Ternyata seekor tikus salah loncat dan menjatuhkan ember kosong sebelum terperosok jatuh ke dalam sumur melalui lubang kecil pada penutup sumur. Sesaat saya tersenyum geli karna tak biasanya tikus pintar jatuh ke dalam sumur. Saya tidak bereaksi apa-apa karena saya pikir dia bisa menyelamatkan diri sendiri dan hal itu pantas buat kesalahannya sendiri.

Tapi kemudian saya saya baru sadar kalau ia jatuh ke air sumur “kehidupan” keluarga saya sehari-hari. Air minum, air cuci dan mandi, dll. semua dari sana. Ini masalah kesehatan dan saya tidak punya pilihan. Saya segera mengambil lampu senter dan membuka tutup sumur untuk melihatnya. Saya menyaksikan tikus besar berenang kian ke mari lima meter di bawah sana, di dalam sumur berdiameter 1 meter dan berisi air sekitar 2 meter kubik. Saya menunggu apakah dia akan bisa menaiki dinding sumur. Ternyata tidak.

Saya segera mengusahakan seutas tali, mengulurkannya supaya ia bisa menaikinya. Ia berusaha untuk menaiki tali, namun ketika ia hampir mendekati tangan saya, ia terkejut dan meloncat namun jatuh lagi. Saya putus asa karna ia tak mau ditolong dengan tali. Saya pun menarik tali sementara menyaksikannya tenggelam perlahan. Tak apalah, toh dia akan terapung.


Ternyata dugaan saya salah. Tikus tenggelam dan tidak muncul lagi. Saya kesal menyalahkan diri sendiri mengapa saya tidak menolongnya secara maksimal. Mengapa tidak menurunkan ember. Saya tidak dapat tidur dengan pulas karna menanti hari segera pagi.

Pagi-pagi benar saya bangun dan melarang seisi rumah memakai air sumur. Kemudian saya juga meminta bantuan tetangga untuk menolong saya menguras air sumur secara manual di samping memakai mesin air, sehingga air yang menyembur dari mata air dapat diatasi.
Tikus mati pun ditemukan dan sumur dapat dikosongkan sekitar dua jam-an. Air sumur segera diberi kaporit dan dibiarkan seharian sebelum digunakan lagi. Sungguh ribet !

Malam harinya, saya meneruskan doa saya untuk memohon pengampunan kepada Tuhan. Saya ingat berucap,”Terima kasih Tuhan karna Engkau telah mengingatkan saya akan resiko yang saya hadapi. Kejatuhan seekor tikus ke sumur telah menyebabkan kematiannya dan kesusahan buat saya, keluarga dan tetangga. Tuhan, saya tidak akan berhenti memberi saran kepada pemimpin saya selagi saya bisa dan mohon beri saya kekuatan. Saya menyadari kalau pemimpin saya jatuh, maka banyak orang yang akan berkesusahan.” Saya pun teringat nats di bawah ini. Saya segera tidur karena kelelahan.

Yakobus 4 : 17
“ Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”

Minggu, 23 Mei 2010

STAIRS OF LIFE

I thank God today because of the opportunity that He gave me to speak to the young people of church GKI in Renon, Denpasar with the topic of "1 - 2 - 3 Action! " I also have to thank some friends and visitors of this blog, including to whom gave comments on my Facebook and to some that I met out there. I was encoraged to continue writing the “fourth life".

“Gecko of Life” has attracted many comments. I won’t forget the incident. My friend Anita from Melbourne, Australia, actually reminded me of the possibility of "mistake" when the young gecko preying on a mosquitoe that existed next to the bee. She insisted that there must be challenges in achieving the objectives.

Relating to the mistakes, I was reminded of the conversation with my children. When I was asking them to convey their desires, suddenly one of them was just silent and did not want to express them because there would not be nothing. Then, I found out that it was one form of protest on my mistakes as a father who might only give the words of hope and could not fulfill their wishes. I was rejected for a moment.

In the helpless moment as a parent, there were tears rolling down my cheeks, I felt that I was been showering the words of wisdom from the sky. I even dared to tell the truth without wanting to defend myself.

I told them that I had experienced the same. Once I was annoyed by my father and it was hard for me to tackle it until my mother reminded me that when I became like them, be a parent , I would understand. I remembered the time when I protested asking a motorcycle. There was only one old motorcycle for being used by a family of five sons and one doughter and we must use it in turn. My father advised me, as the fourth son, to quit my high school and go to Ubud – art center of Bali -- for getting a job, so then I could buy a motorcycle finally. My father and my mother knew my talent of art very well. Then my father asked me, "Do you want your dad to work from morning till morning?"

My children were silent. I went on saying my words. Now, I could understand what my mother saying. Then, I told them that I only had two choices.

First, I could not choose. I could not choose, for instance : ”not to be born in a poor family”, or “born in a big family”.

Second, I could choose. I could choose, for instance : “buying some foods that I wanted if I had some money”, or “taking my wife and children for shopping when they liked and we had some money”.

So, whenever we can choose, choose the best ones ! Including the choice of the best of the worst ones. However, if there is no choice, stop blaming ourselves or blaming other people including our parents. Give thanks ! They surely had no choice,too and had coped with the hard situation for giving us the best.

Finally, I told my children, "By the grace of God, grandfathers and grandmothers with others who helped, has made for us two or three steps or even more, so we can go up. Then by the grace of God, with others, too, we could add some more steps, as where we are now. Then, it is your task to continue to add some more steps to the stairs of life that we have with your choices. This is the real life stairs. I found out the following verse is true.

Deuteronomy 5: 16
" 'Respect your father and your mother, as I, the LORD your God, command you, so that all may go well with you and so that you may live a long time in the land that I am giving you. "

Sabtu, 22 Mei 2010

TANGGA KEHIDUPAN


Saya bersyukur kepada Tuhan hari ini karena kesempatan yang Dia berikan untuk berbicara di depan pemuda GKI di Renon dengan topik “ 1 – 2 – 3 Action ! “ Saya juga mesti berterima kasih kepada teman-teman serta pengunjung blog ini, termasuk untuk yang memberi komentar di Facebook dan pada waktu berjumpa di luar sana. Saya terdorong untuk meneruskan tema keempat “kehidupan” malam ini.

Tokek Kehidupan telah mengundang banyak komentar. Saya pun tidak akan melupakan kejadian tersebut. Teman saya Anita dari Melbourne, Australia, malah mengingatkan saya akan kemungkinan “kesalahan” tokek pada waktu hendak memangsa nyamuk yang ada di samping tawon. Dia menegaskan pastilah ada tantangan-tantangan di dalam mencapai tujuan.

Menyinggung hal kesalahan, saya teringat akan percakapan dengan anak-anak saya. Ketika mereka saya minta untuk menyampaikan keinginannya, tiba-tiba salah satu dari mereka hanya terdiam kesal dan tak mau mengungkapkannya karna toh tidak akan ada apa-apanya. Saya kemudian menjadi sadar kalau itu merupakan salah satu bentuk protes atas kesalahan saya selaku ayah yang mungkin hanya bisa memberi kata-kata harapan dan tidak bisa memenuhi kerinduan hatinya. Saya terpojok sesaat.

Dalam ketidakberdayaan selaku orangtua atas keinginan tersebut, sepertinya ada air mata menetes di pipi, saya merasa mendapat hikmat kata-kata dicurahkan dari langit. Saya pun memberanikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya tanpa ingin membela diri.

Saya katakan kepada mereka bahwa saya pernah seperti mereka, kesal terutama kepada ayah sampai-sampai ibu saya mengingatkan saya bahwa kapan saya menjadi seperti mereka, menjadi orangtua maksudnya, saya baru akan mengerti. Saya ingat betul akan kejadian saya protes minta sepeda motor, mengingat kami lelaki berlima plus si cantik terkecil hanya punya satu sepeda motor tua dan itu pun berebutan memakainya. Saya, selaku anak keempat, dinasihati ayah untuk berhenti sekolah sma dan akan dikirim ke Ubud untuk bekerja supaya saya bisa beli sepeda motor. Ayah dan ibu tahu betul bakat seni gambar saya. Yang lebih saya ingat lagi, ayah bertanya kepada saya,”Apakah kamu mau ayahmu bekerja dari pagi sampai pagi ?”

Anak-anak saya terdiam. Saya meneruskan ucapan saya. Sekarang saya mengerti apa arti ucapan ibu saya. Saya katakan kepada mereka bahwa saya hanya memiliki dua pilihan.


Pertama, saya tidak bisa memilih. Saya tidak bisa memilih untuk tidak dilahirkan di keluarga pas-pasan, atau lahir dengan saudara banyak dan sebagainya.

Kedua saya bisa memilih. Saya bisa memilih makanan kesukaan yang hendak dibeli kalau punya uang, atau mengajak anak-anak dan istri jalan-jalan kalau mereka suka dan memungkinkan.

Jadi, semasih bisa memilih, sebisanya pilihlah yang terbaik ! Termasuk pilihan yang terbaik dari yang terjelek. Namun, apabila tidak ada pilihan, berhentilah menyalahkan, apalagi menyalahkan oranglain termasuk orangtua kita. Mengucap syukurlah karena mereka pastilah tidak punya pilihan dan sudah berupaya dengan usaha terbaik untuk kita.

Terakhir saya katakan kepada anak-anak saya,”Atas anugerah Tuhan, kakek dan nenekmu, serta banyak orang lain yang telah menolong, sudah membuatkan kami dua, tiga tangga bahkan lebih, sehingga kami bisa naik. Kemudian atas anugerah Tuhan, serta banyak orang lain yang telah menolong, kami meneruskannya beberapa anak tangga lagi sehingga kita berada pada tangga kehidupan seperti sekarang ini. Tugasmulah, apabila kami tak sanggup lagi, untuk meneruskan pilihanmu. Inilah tangga kehidupan sesungguhnya. Nats berikut benar adanya.

Ulangan 5 : 16
16 Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”

Kamis, 20 Mei 2010

GECKO OF LIFE


One morning in April, I was awakened by the cries of my child called my name several times. I went out and got my son laughing, looking at the floor. I found out what happened.


A young gecko just fell from the ceiling along with a bee. I paused to reflect on what the meaning of all this. And I did not waste this rare opportunity. I immediately took the camera and could snapped only two shots. One of them was blur because the gecko ran away suddenly.


It seemed that the young gecko has chosen wrong prey. It was too ambitious with large prey without thinking about the risks carefully. It was too quick grab and "maknyos"! It was stung. I've been stung by a bee, so I knew how about the pain that must be experienced by the gecko who has no experience yet. Plus another added pain when he fell to the floor. Certainly the gecko could not move about five minutes before the escape. Bee has died because it was trapped in gecko’s mouth, fell on the floor and lost its sting.


I think to achieve a dream in our life is a struggle. Do not think every thing can be instant ! Do not be careless ! Do not be greedy and loose controll ! Try to be grateful while learning to interpret small things that we could earn. Do not worry because the big dream surely will come when God allows it. I learnt it from the following verse:

Matthew 6 : 34
So do not worry about tomorrow; it will have enough worries of its own. There is no need to add to the troubles each day brings.