HOME

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Mei 2010

TANGGA KEHIDUPAN


Saya bersyukur kepada Tuhan hari ini karena kesempatan yang Dia berikan untuk berbicara di depan pemuda GKI di Renon dengan topik “ 1 – 2 – 3 Action ! “ Saya juga mesti berterima kasih kepada teman-teman serta pengunjung blog ini, termasuk untuk yang memberi komentar di Facebook dan pada waktu berjumpa di luar sana. Saya terdorong untuk meneruskan tema keempat “kehidupan” malam ini.

Tokek Kehidupan telah mengundang banyak komentar. Saya pun tidak akan melupakan kejadian tersebut. Teman saya Anita dari Melbourne, Australia, malah mengingatkan saya akan kemungkinan “kesalahan” tokek pada waktu hendak memangsa nyamuk yang ada di samping tawon. Dia menegaskan pastilah ada tantangan-tantangan di dalam mencapai tujuan.

Menyinggung hal kesalahan, saya teringat akan percakapan dengan anak-anak saya. Ketika mereka saya minta untuk menyampaikan keinginannya, tiba-tiba salah satu dari mereka hanya terdiam kesal dan tak mau mengungkapkannya karna toh tidak akan ada apa-apanya. Saya kemudian menjadi sadar kalau itu merupakan salah satu bentuk protes atas kesalahan saya selaku ayah yang mungkin hanya bisa memberi kata-kata harapan dan tidak bisa memenuhi kerinduan hatinya. Saya terpojok sesaat.

Dalam ketidakberdayaan selaku orangtua atas keinginan tersebut, sepertinya ada air mata menetes di pipi, saya merasa mendapat hikmat kata-kata dicurahkan dari langit. Saya pun memberanikan diri untuk mengatakan yang sejujurnya tanpa ingin membela diri.

Saya katakan kepada mereka bahwa saya pernah seperti mereka, kesal terutama kepada ayah sampai-sampai ibu saya mengingatkan saya bahwa kapan saya menjadi seperti mereka, menjadi orangtua maksudnya, saya baru akan mengerti. Saya ingat betul akan kejadian saya protes minta sepeda motor, mengingat kami lelaki berlima plus si cantik terkecil hanya punya satu sepeda motor tua dan itu pun berebutan memakainya. Saya, selaku anak keempat, dinasihati ayah untuk berhenti sekolah sma dan akan dikirim ke Ubud untuk bekerja supaya saya bisa beli sepeda motor. Ayah dan ibu tahu betul bakat seni gambar saya. Yang lebih saya ingat lagi, ayah bertanya kepada saya,”Apakah kamu mau ayahmu bekerja dari pagi sampai pagi ?”

Anak-anak saya terdiam. Saya meneruskan ucapan saya. Sekarang saya mengerti apa arti ucapan ibu saya. Saya katakan kepada mereka bahwa saya hanya memiliki dua pilihan.


Pertama, saya tidak bisa memilih. Saya tidak bisa memilih untuk tidak dilahirkan di keluarga pas-pasan, atau lahir dengan saudara banyak dan sebagainya.

Kedua saya bisa memilih. Saya bisa memilih makanan kesukaan yang hendak dibeli kalau punya uang, atau mengajak anak-anak dan istri jalan-jalan kalau mereka suka dan memungkinkan.

Jadi, semasih bisa memilih, sebisanya pilihlah yang terbaik ! Termasuk pilihan yang terbaik dari yang terjelek. Namun, apabila tidak ada pilihan, berhentilah menyalahkan, apalagi menyalahkan oranglain termasuk orangtua kita. Mengucap syukurlah karena mereka pastilah tidak punya pilihan dan sudah berupaya dengan usaha terbaik untuk kita.

Terakhir saya katakan kepada anak-anak saya,”Atas anugerah Tuhan, kakek dan nenekmu, serta banyak orang lain yang telah menolong, sudah membuatkan kami dua, tiga tangga bahkan lebih, sehingga kami bisa naik. Kemudian atas anugerah Tuhan, serta banyak orang lain yang telah menolong, kami meneruskannya beberapa anak tangga lagi sehingga kita berada pada tangga kehidupan seperti sekarang ini. Tugasmulah, apabila kami tak sanggup lagi, untuk meneruskan pilihanmu. Inilah tangga kehidupan sesungguhnya. Nats berikut benar adanya.

Ulangan 5 : 16
16 Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”

Kamis, 20 Mei 2010

TOKEK KEHIDUPAN


Suatu pagi di bulan April yang lalu, saya terbangun oleh teriakan anak saya memanggil nama saya beberapa kali. Sepontan saya keluar dan mendapatkan anak saya tertawa sambil memandang ke lantai. Saya mencari tahu apa yang terjadi.


Ternyata seekor tokek muda baru saja jatuh dari langit-langit rumah bersamaan dengan seekor tawon. Saya diam sejenak untuk merenungkan apa makna semua ini. Dan saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Saya segera mengambil kamera dan hanya dapat dua bidikan. Salah satunya kabur karna tokek keburu ngacir.


Rupanya, si tokek muda telah salah memilih mangsa. Bisa jadi ia terlalu ambisius dengan mangsa yang besar tanpa memikirkan resiko dengan seksama. Pokoknya asal tangkap dan “maknyos” ! Ia pun tersengat. Saya yang pernah disengat tawon tahu bagaimana kira-kira rasa sakit yang mesti dialami oleh si tokek yang belum pengalaman. Belum lagi lagi ditambah rasa sakit ketika jatuh ke lantai. Yang jelas si tokek tak bergerak kira-kira lima menitan sebelum kabur. Tawon mati karena sempat terjepit di mulut tokek di samping kehilangan sengat.


Saya pikir hidup meraih impian adalah perjuangan. Namun, jangan asal instan, apalagi ceroboh. Jangan karena loba kita lupa diri. Syukuri yang kecil sambil belajar memaknainya. Jangan kuatir karna yang besar pastilah akan tiba waktunya bila Tuhan mengizinkannya, seperti petunjuk nats berikut :


Matius 6 : 34
"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Selasa, 18 Mei 2010

POHON KEHIDUPAN


Beberapa minggu yang lalu, ketika saya keluar halaman rumah, saya menemukan "sebatang pohon kehidupan". Ia teronggok di antara bebatuan di dalam karung usang yang bersandar di tembok pagar dan tidak tahu dari mana asalnya. Saya lantas mengambil kamera dan membidiknya sambil bertanya kepada diri sendiri :


  • Mengapa ia begitu berani tumbuh di tempat yang beresiko seperti itu ?

  • Apakah ia tidak tahu apabila koral itu diperlukan, ia belum tentu bisa hidup lagi ?

  • Ataukah ia memiliki pengharapan akan adanya orang yang baik hati untuk memindahkannya ke tempat yang baik ?

Ternyata saya mengkuatirkan keberadaan pohon kecil ini. Hal ini mungkin karna saya mengingat masa lalu saya yang juga sering berada di posisi yang tidak nyaman seperti itu. Ingin rasanya cepat-cepat keluar dari persoalan yang ada, walaupun kadak tidak mudah dan tidak berdaya. Sekali pun ada usaha diri, tapi pertolongan tangan lainlah yang mesti memindahkan kita.


Nampaknya saya lebih baik dari pohon kehidupan itu sehingga tidak ada alasan untuk saya untuk tidak bersyukur kepada Tuhan atas segala pemberiannya dan berterima kasih kepada keluarga, sahabat dan orang-orang saya jumpai yang memberi arti sendiri bagi kehidupan saya. Begitu pula kepada pohon kecil tadi yang mengingatkan saya untuk bersyukur dan tidak kuatir untuk hal-hal yang tidak perlu dikuatirkan. Pesan berikut ini sangat mengingatkan saya.

Matius 6 : 27 – 30 :

27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

Rabu, 05 Mei 2010

SUNGAI KEHIDUPAN

Sekarang saya baru mengerti apa itu impian. Impian adalah sesuatu yang indah dalam angan-angan, namun penuh rintangan dan tantangan pada kenyataannya. Impian seringkali tidak mudah untuk dicapai karena ada saja hal-hal yang menghambatnya. Saya baru-baru ini menyeberangi sungai Ho yang cukup lebar, berbatu dan kadang berarus deras, yang memisahkan dusun Ngis dengan desa Rejasa di kabupaten Tabanan - Bali. Saya jadi teringat masa lalu.

Semasa kecil saya seringkali menyeberanginya bersama ibu yang selalu dengan yakin menuntun saya dengan satu tangan tatkala harus berjalan melintasi beberapa batu kali yang memiliki permukaan agak licin dan kadang berada di bawah permukaan air. Buat saya hal ini tidaklah selalu mudah, terlebih lagi karna saya lahir dan besar di kota Denpasar. Tentu saja saya seringkali tergelincir dan bahkan pernah terhanyut. Untung saja ibu saya ibu yang perkasa. Dia dengan sigap akan menolong saya dan tak dibiarkannya saya berlama-lama dibawa arus air. Bisa jadi kegigihannya karna dia lahir dan besar di desa sehingga dia mengenal betul tantangan di desa termasuk sungainya. Dalam keadaan basah kuyup, dia biasanya akan menyuruh saya untuk berdiri sesaat di batu kering sambil mengamati tempat saya terhelincir. Apabila badan sudah tak basah lagi, maka kami pun akan melanjutkan menyeberangi sungai dengan hati-hati.


Hari ini, pengalaman itu sangat berarti. Impian atau cita-cita tidaklah langsung dapat digapai. Ada berbagai batu, baik besar atau kecil, kering atau basah, kasar atau halus, yang harus dilalui. Hal itu tak lebih seperti keadaan kehidupan, pekerjaan, pelayanan dan lain-lain yang kita sudah dan sedang kita jalani. Kalau jatuh, janganlah berlama-lama dalam kesedihan, ayo keluar darinya ke tempat pijakan di mana kita sesaat dapat merenungkan hikmah kejatuhan tadi dan segera ambil resiko untuk maju bak pemenang. Seringkali kita tidak tegas dan berlama-lama dalam pergumulan dan sering menyandarkan diri pada kekuatan sendiri. Sungguh melelahkan dan buang-buang waktu akhirnya. Seringkali akhirnya kita lupa akan cita-cita semula.


Nats berikut sungguh terasa menyejukkan hati saya dan memberi pengharapan yang teguh.

Matius 11 : 28 – 30 :

28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."

Yesus telah mengangkat saya berkali-kali dari kejatuhan dan menjadikannya pelajaran yang baik untuk saya, sehingga saya dapat keluar dari kegelapan menuju hidup terang yang penuh kasih. Untuk itu saya mengucap syukur dan blog ini didedikasikan untuk itu berdasarkan pengalaman nyata.

Syalom,
Pica Turker